Desa Adat Penglipuran Bali

Desa ini merupakan desa wisata yang terletak di Bangli. Alamat lengkapnya berada di Jl. Penglipuran, Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali. Aku berada di tempat ini juga mengandalkan map dan sesekali tanya ke warga sekitar. Perjalananan memakan waktu kurang lebih 1 jam menggunakan motor dari bandara Ngurah Rai Bali.

Kondisi jalan menuju desa ini relatif sepi. Setelah masuk ke kabupaten Bangli, kondisi udara mulai terasa sejuk. Benar saja, ternyata desa ini memang terletak di ketinggian sekitar 700 mdpl.

penglipuran
Desa Penglipuran


Harga tiket masuk untuk dewasa adalah Rp.10.000 / orang (2015). Tersedia lahan parkir yang sangat luas dan diawasi oleh petugas. Dari parkiran, harus jalan kaki menuju gerbang utama desa wisata ini. 



Dinamakan desa penglipuran karena  berasal dari kata 'pengeling pura' yang artinya tempat suci yang digunakan untuk mengenang leluhur. Tempat ini sangat ramai pada hari-hari tertentu untuk upacara keagamaan misalnya saat Galungan. Namun saat hari biasa, desa ini relatif sepi.



penglipuran
Pura didesa Penglipuran
Meskipun hawa dingin lumayan terasa, namun itu tidak menjamin dari panasnya sengatan matahari. Untungnya aku bawa topi. Hehehee. Desa ini sangat unik karena semua rumah tersusun rapi saling berhadapan dan terdapat pura di ujung jalan yang terletak paling tinggi dibanding rumah warga. Setiap rumah pasti mempunyai gapura kecil yang hanya bisa untuk lewat manusia. Bentuk gapura dan rumahnya juga hampir sama. Jadi susah membedakan satu sama lainnya. Di depan gapura setiap rumah terdapat papan tulis yang isinya memberi informasi berapa jumlah anggota keluarga yang tinggal di dalam rumah tersebut. Sejauh mata memandang, aku tidak menemukan adanya sepeda / motor / mobil di rumah-rumah warga ini. Mungkin mereka memang hidup tanpa kendaraan, atau bisa juga tersedia lahan parkir khusus warga sana di suatu tempat.


Kebersihan desa ini sangat terjaga dengan baik. Banyak pepohonan dan bunga-bunga didepan rumah serta bambu tinggi yang dihiasi janur kuning beserta sesajen untuk para leluhur. Tersedia homestay di desa Penglipuran ini. Namun aku kurang paham berapa harganya. 


penglipuran
Sesajen di depan rumah
Keseharian penduduk di desa ini sangat beragam. Ada yang menjadi tour guide, ada yang mengolah biji kopi, ada yang membuat kain tenun dan souvenir, ada pula yang membuat minuman tradisional.

penglipuran
Penduduk setempat
Aku memilih mencoba minuman tradisional khas daerah sana. Namanya loloh cemcem. Harganya hanya Rp. 5.000 / botol 500 ml dan bisa diminum ramai-ramai selagi dingin dari kulkas. Sebenarnya bisa dibawa pulang sampai Semarang juga, namun aku males bawa banyak barang. Warna minumannya hijau muda khas daun karena memang terbuat dari daun cemcem. Rasa daunnya sangat berasa banget. Kaya ngunyah daun mentah deh. Tapi sebenarnya seger kok minumannya. Ada taburan irisan kelapa mudanya juga. Yang aku sayangkan adalah penggunaan botol PET yang harusnya sekali pakai, namun digunakan berulang untuk wadah loloh cemcem ini.

penglipuran
Angkul-angkul
Selesai menjelajah desa bersih dan tenang ini, kini aku harus segera pergi untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya.


Kesimpulan : desa wisata yang bersih, tenang, unik, dan wajib dikunjungi. Rekomendasi kunjungan 1-2 jam.



Tips dari aku :

1. Datanglah pagi hari saat kondisi masih sejuk
2. Jangan buang sampah sembarangan karena disini sangat menjaga kebersihan dan menjaga alam.
3. Jaga volume suara agar tidak membuat gaduh
4. Hargai mereka yang akan melakukan sembahyang baik di pura maupun di sekitar rumah mereka.


Nama           : Desa wisata Penglipuran

Alamat         : Jl. Penglipuran, Kubu, Kec. Bangli, Kabupaten Bangli, Bali
Tiket masuk : Rp. 10.000 / orang (2015) 

0 comments:

Post a comment

Terima kasih. Komentar anda sangat membantu penulis untuk terus memperbaiki blog ini ^^